Tampilkan postingan dengan label Rezeki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rezeki. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Maret 2016

Sang Imam Pencari Rezeki

Alkisah -- Suatu hari, seorang ulama besar yang bernama Imam Az Zahidi hendak membuktikan keyakinan tentang urusan rezeki.

Untuk itu, Sang Imam melakukan perjalanan jauh seorang diri dengan menjelajahi bumi Allah menuju daerah yang tidak dilewati seorang manusia pun.

Sampailah Sang Imam di sebuah hutan yang lebat. Ia menuju bukit, masuk ke dalam goa yang gelap gulita. Kemudian, ia duduk di sudut gua tersebut sambil berdzikir dalam hatinya.

Di dalam benak pikirannya, Sang Imam berkata, “Aku hendak mengamati dengan cara apakah Tuhanku memberikan rezeki kepadaku di tempat sunyi dan sepi seperti ini?”

Tuhan Yang Maha Kuasa mendengar ucapan Sang Imam. Dan Tuhan membuktikan Kuasa-Nya.

Beberapa  hari kemudian, ada suatu rombongan kafilah yang membawa barang dagangan melintasi hutan tersebut. Ketika hujan turun lebat, mereka tersesat arah hingga mereka pun sibuk mencari tempat berteduh.

Masuklah mereka ke dalam gua dimana Sang Imam berada di dalam. Merekapun melihatnya. Dan salah seorang dari mereka bertanya, “Hai hamba Allah?”

Sang Imam hanya menjawab dalam hatinya, namun lisannya tak menjawab. Salah seorang dari mereka berkata, “Mungkin dia kedinginan dan tak mampu bicara!”

Mereka mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun di dekat Sang Imam, dengan tujuan menghangatkan tubuh Sang Imam. Kemudian, mereka mengajaknya berbicara lagi.

Lagi-lagi, Sang Imam tetap diam seribu bahasa. Sahut salah saorang dari mereka, “Ada kemungkinan dia kelaparan!”

Mereka menyiapkan makanan dan memberikan makanan tersebut dengan isyarat kepada Sang Imam. Sekali lagi, Sang Imam tidak mengambil makanan yang disediakan dan tetap diam membisu di tempat duduknya.

“Orang ini terlalu lama duduk di tempatnya sehingga ia tak kuat mengambilnya!”, kata seorang perempuan yang menyiapkan makanan.

Lalu, perempuan lain menimpalinya, “Ya, betul. Dan pastinya, ia sudah lama tak makan apapun!”

Mereka memasak susu hangat dan kolak manis supaya Sang Imam mau makan. Lagi-lagi, Sang Imam tidak menolehkan mukanya. Berkatalah salah seorang dari mereka, “Sepertinya mulut dan gigi-giginya tertutup rapat.”

“Coba kalian buka mulutnya. Trus, buka gigi-giginya menggunakan pisau!”, perintah ketua rombongan.

Berdirilah dua orang laki-laki. Mereka mengambil pisau untuk membuka mulut Sang Imam. Akhirnya, usaha mereka tidak sia-sia. Mulut dan gigi Sang Imam terbuka. Mereka memasukkan sesuap kolak ke mulut Sang Imam.

Hati Sang Imam tergelitik geli melihat prilaku orang-orang kafilah itu yang terus menerus berusaha memberi makan kepadanya tanpa kenal menyerah. Karena sudah tak tahan, akhirnya Sang Imam tertawa terbahak-bahak.

“Ah, ahh, ahhh, ahhhh………..”

“Sudah gilakah Anda, Tuan?”, kata laki-laki yang memegang mulut Sang Imam terkaget sambil melompat ke belakang. Begitupun laki-laki yang menyuapi kolak.

“Tidak!”, jawab Sang Imam.

“Lalu…?”, tanya pemimpin mereka.

Sang Imam pun menjelaskan alasannya, “Aku sekali-kali tidak gila. Begini. Aku hanya ingin membuktikan kekuasaan Allah SWT. Sampai sejauh mana Tuhanku menjamin rezeki untukku.

Kini akupun tahu dengan pasti Allah SWT menjamin rezekiku dan rezeki hamba-hamba-Nya kapan saja, dimana saja hamba-Nya berada dan dengan cara apa saja. Itu yang sedang kubuktikan.”

***

Referensi: Abu H.F. Ramadlan BA, “Terjemah Duratun Nasihin”, Penerbit Mahkota, Surabaya.

Jumat, 11 Maret 2016

Burung Gagak Pembawa Roti

Alkisah -- Pada suatu hari, Sultan Ibrahim bin Adham pergi berburu ke hutan. Setelah berkeliling-keliling mencari hewan buruan, sang Sultan merasa lelah. Lalu ia berhenti di suatu tempat peristirahatan.

Sang Sultan mengeluarkan bekal makanannya dan segera menyantapnya. Saat sedang menikmati bekal makanannya, tiba-tiba seekor gagak datang dan langsung menyambar roti yang ada ditangan kanannya dengan paruhnya.

“Hey…”

Gagak itu terbang kembali. Dengan perlakuan burung gagak yang aneh, sang Sultan heran dan berkata, “Apa mungkin burung gagak makan roti?”

Celetuk sang Sultan. “Aaah, rasanya tidak mungkin! Aku harus cari tahu penyebabnya!”

Sang Sultan langsung pergi membuntuti burung gagak itu hingga burung gagak melintasi bukit. Lenyaplah ia dari pandangan sang Sultan. Namun, sang Sultan terus mendaki bukit dan mencari-carinya.

Usahanya tidak sia-sia. Terlihatlah burung gagak itu dari kejauhan. Langkah sang Sultan pun dipercepat sampai mendekati burung gagak itu.

Tatkala sang Sultan mendekati burung gagak itu, ia sangat kaget sekali karena ada seorang pria dengan tangan dan kaki terikat tak berdaya. Pria itu tidur terlentang.

Melihat pria itu terikat, sang Sultan turun dari kudanya dan langsung melepaskan ikatannya. Ia bertanya tentang sabab-musababnya pria itu terikat.

“Kenapa kamu terikat seperti ini ditengah hutan?”, tanya sang Sultan.

Pria itu menjawab, “Aku adalah seorang pedagang yang bernasib malang. Aku dihadang para begal dan semua harta daganganku dirampas. Mereka tidak membunuhku, hanya mengikatku dan melemparkan aku ke tempat ini.

“Sudah tujuh hari aku terikat ditempat ini. Dan setiap harinya, burung gagak itu datang kepadaku membawakan roti.”

“Ia bertengger di dadaku ini dan memotong-motong roti dengan paruhnya, dan langsung memasukkan potongan roti itu ke mulutku. Selama tujuh hari ini, Allah SWT tidak membiarkan hambanya ini dalam keadaan lapar.”

Akhirnya, sang Sultan naik kuda lagi dan memboncengkan pria itu ke tempat peristirahatan semula.

Dengan adanya peristiwa itu, tergugahlah hati sang Sultan untuk bertaubat kepada Allah SWT. Ia melepaskan pakaian kebesarannya. Ia mulai dengan kehidupan sederhana. Ia memakai pakaian sufi. Ia membebaskan seluruh budaknya. Ia mewakafkan seluruh harta benda dan tanah miliknya.

Di akhirnya hidupnya, ia pergi menuju kota Mekkah dengan bertongkat tanpa bekal dan tanpa kendaraan apapun. Ia melakukan semua ini dengan penuh tawakal kepada Allah SWT.

Sesampainya ia di kota Mekkah, tiada merasa lapar bahkan ia bersyukur kepada Allah SWT atas hidayah yang didapat.

***

Referensi: Abu H.F. Ramadlan BA, “Terjemah Duratun Nasihin”, Penerbit Mahkota, Surabaya.

Rezeki Kita Dijamin Tuhan

Hikmah -- Menurut Al Qur’an nul Karim, setiap makhluk yang diciptakan Tuhan telah dijamin rezeki masing-masing. Berikut  penjelasannya:
Artinya:
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudh).” (QS. Al Hud: 6)

Tidak diragukan lagi tentang banyaknya hewan, beraneka ragam warnanya, berbeda-beda bentuknya, serta berbeda-beda jenisnya, yang hidup di daratan ataupun di lautan, serta yang ada dibukit-bukit ataupun di pemukiman manusia. Semua itu, hanya Tuhan yang tahu dengan pasti jumlahnya, sementara lain tidak.

Hanya Tuhan pulalah yang tahu pasti bagaimana tabi’at hewan-hewan tersebut, jumlah anggotanya, kebiasaannya, makanannya, bisa dan racunnya, tempat tinggalnya, dan hal-hal yang sesuai dengan selera mereka ataupun tidak.

Menurut Ulama Quraish Shihab, “Harusnya manusia mengetahui bahwa kekuasaan, nikmat-nikmat dan ilmu Allah itu mencakup segala sesuatu. Tak satu binatang pun yang melata di bumi ini kecuali Allah (dengan karunia-Nya) telah menjamin rezeki yang layak dan sesuai dengan kebutuhannya.”

Allah juga mengetahui di mana binatang itu menetap dan ke mana binatang itu akan ditempatkan setelah kematiannya. Semua itu tercatat di sisi Allah dalam sebuah kitab yang menjelaskan hal ihwal makhluk-makhluk-Nya.” (Tafsir Al Misbah)

Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Mengatur Segalanya. Ketahuilah,
Artinya:
“Dan siapa bertawakal kepada Allah, pasti Allah mencukupi keperluannya.” (Q.S. Ath Thalaq, 65: 3)

***


Referensi: Abu H.F. Ramadlan BA, “Terjemah Duratun Nasihin”, Penerbit Mahkota, Surabaya.